Pasti di sini sudah pada tau kan dengan salah satu suku yang mendiami wilayan banyuwangi, pastinya sudh pada tau dong. Kali ini kita akan membahas lebih dalam lagi tentang suku osing agar pengetahuan kita betambah simak terus penjelasan ini.
Identitas Suku osing
Suku Osing Juga di Sebut Laros atau di sebut juga wong blambangan, mengapa demikian? karena sui osing merupakan penduduk asli Banyuwangi dan merupakan keturunan kerajan blambangan. oleh karena itu mereka di kenal sebagai wong blambangan. Masyarakat Osing saat ini memiliki domisili wilayah tengah dan juga utara kabupaten banyuwangi.
penduduk osing sangat menjaga dan saling melindungi karena mereka merupakan keturunan kerjaan blmambangan pada masa lampau.
Orang Osing menggunakan bahasa Osing yang masih termasuk dialek dari bahasa Jawa. Walaupun termasuk sub-etnis Jawa, kebudayaan Osing berbeda dengan suku Jawa pada umumnya karena banyaknya pengaruh budaya dari suku Bali. Kata Osing sendiri berasal dari bahasa Bali tusing yang artinya tidak.
Bahasa yang di Gunakan Suku Osing
Mungkin beberapa di antara kalian ada yang sudah tahu bahasa apa yang di gunakan oleh masyarakat osing. atau mungkin salah satu di antara kalian merupakan suku osing itu sendiri. Suku Osing bertutur bahasa Osing yang merupakan turunan dari bahasa Jawa Pertengahan. Bahasa Osing masih termasuk varian dari bahasa Jawa modern yang terpisah agak jauh dengan dialek Jawa lainnya dan masih banyak menggunakan kosakata dari bahasa bahasa Jawa Pertengahan versi awal, selain itu bahasa Osing menggunakan diftongisasi khusus (perubahan vokal i menjadi ai dan vokal u menjadi au) yang tidak ditemui di dialek Jawa manapun. Selain itu, terdapat juga pengaruh bahasa Bali, seperti kata sing (tidak) dan bojog (monyet).

Kepercayaan masyarakat suku osing
Jauh Sebelum adanya kerajaan islami masyarakat osing mayoritas menganut kepercayaan hindu-budha, Hingga pada akhirnya berdirilah sebuah kerajaan islam di pantura dan dengan cepat menyebarkan ajaran agama islam. Selain itu juga di pengaruhi oleh aktivitas perdangangan d wilayah belambangan oleh VOC yang sangat berdampak besar. Masyarakat Osing mempunyai tradisi puputan, seperti halnya masyarakat Bali. Puputan adalah perang terakhir hingga darah penghabisan sebagai usaha terakhir mempertahankan diri terhadap serangan musuh yang lebih besar dan kuat. Tradisi ini pernah menyulut peperangan besar yang disebut Puputan Bayu pada tahun 1771 M.
Wilayah Penyebaran Suku
Secara garis besar suku osing profesi suku osing merupakan petani, nelayan dan juga pedagang sehingga mengharuskan mereka untuk menyebar ke berbagai wilayah. Wilayah- wilayah itu di antaranta Suku Osing menempati beberapa kecamatan di kabupaten Banyuwangi bagian Utara, tengah dan bagian timur, mayoritas berada di Kecamatan Songgon, Kecamatan Rogojampi, Kecamatan Singojuruh, Kecamatan Kabat, Kecamatan Licin, Kecamatan Giri, Kecamatan Glagah dan sebagian berada di Kecamatan Banyuwangi, Kecamatan Blimbingsari, Kecamatan Genteng, Kecamatan Muncar, Kecamatan Kalipuro dan Kecamatan Sempu yang berbaur dengan komunitas suku yang lain seperti Suku Madura & Suku Bali. Ada juga sekelompok kecil yang berada di Kecamatan Srono, Kecamatan Cluring dan Kecamatan Gambiran yang berbaur dengan orang Jawa Mataraman
Suku Osing dianggap sebagai penduduk asli di wilayah Kabupaten Banyuwangi. Anggapan ini oleh beberapa kalangan dan hasil penelitian. Suku Osing sendiri menyebut Kabupaten Banyuwangi sebagai Tanah Blambangan, sebuah wilayah di ujung paling timur pulau Jawa. Suku ini menyebar di desa-desa pertanian subur di bagian tengah dan timur Banyuwangi yang secara administratif meliputi wilayah yang berada di Kecamatan Rogojampi, Kabat, Licin, Sempu, Singojuruh, Songgon, Cluring, Srono, Banyuwangi mereka telah bercampur dengan penduduk non-Osing, yang terdiri dari migran asal Madura, Bali, Jawa Timur bagian barat dan Jawa Tengah, termasuk Yogyakarta. Orang Osing menyebut mereka dengan sebutan “Wong Osing” dengan “Tanah Blambangan”.





