Ada yang pernah dengar tradisi sedekah bumi? Disebut juga babaritan, tradisi kampung Kranggan sejak ratusan tahun silam sebagai bentuk rasa syukur terhadap bumi yang telah memberikan rezeki yang melimpah ruah. Kampung ini dikenal dengan Kampung Adat yang menjaga tradisinya secara turun-menurun.
Babarit sendiri berasal dari Bahasa Sunda “ngababarkeun ririwit” artinya melenyapkan kesusahan atau “salametan bumi”. Tradisi ini dilestarikan di 27 titik Kampung Kranggan, Kelurahan Jatirangga, Kecamatan Jatisampurna. Dengan bangga, warga setempat terus melestarikan kegiatan adat. Masyarakat Bekasi tetap menjaga Tradisi Babaritan sebagai simbol kebersamaan, doa keselamatan, dan ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT.
Apa Itu Tradisi Babaritan?
Babaritan adalah tradisi doa bersama yang biasanya dilaksanakan sebelum memulai musim tanam atau setelah panen. Dalam praktiknya, masyarakat berkumpul untuk menggelar pengajian, membaca doa, serta makan bersama.
Kata “babaritan” sendiri berasal dari istilah dalam budaya Sunda yang merujuk pada kegiatan ritual tolak bala atau memohon perlindungan dari marabahaya.
Dalam konteks kebudayaan Islam di Bekasi, Babaritan bukan sekadar ritual adat, tetapi juga bentuk ibadah kolektif yang sarat nilai spiritual.
Sejarah Tradisi babaritan di Bekasi
Sebagai wilayah yang memiliki pengaruh budaya Betawi dan Sunda, Bekasi memiliki kekayaan tradisi lokal yang unik. Tradisi Babaritan berkembang sebagai bentuk adaptasi masyarakat terhadap ajaran Islam yang masuk ke wilayah tersebut sejak berabad-abad lalu.
Para ulama dan tokoh agama saat itu tidak menghapus tradisi lokal, melainkan mengislamkannya dengan memasukkan unsur doa, dzikir, dan pembacaan ayat suci Al-Qur’an.
Proses akulturasi inilah yang membuat Tradisi Babaritan tetap relevan hingga saat ini.

Rangkaian Prosesi babaritan
Pelaksanaan Babaritan biasanya melibatkan seluruh warga kampung. Berikut tahapan umumnya:
1. Persiapan Sesajen dan Hidangan
Masyarakat membawa makanan tradisional seperti nasi tumpeng, lauk-pauk, dan hasil bumi. Makanan tersebut bukan untuk disembah, melainkan sebagai simbol rasa syukur atas rezeki yang diberikan.
2. Pembacaan Doa dan Pengajian
Acara inti adalah pembacaan doa bersama yang dipimpin tokoh agama. Ayat-ayat Al-Qur’an dibacakan sebagai bentuk permohonan keselamatan dan keberkahan.
3. Makan Bersama
Setelah doa selesai, warga makan bersama sebagai simbol kebersamaan dan persaudaraan.
Nilai gotong royong dan solidaritas sangat terasa dalam tradisi ini.
Makna Filosofis Tradisi babaritan
Tradisi Babaritan mengandung berbagai makna mendalam, antara lain:
1. Rasa Syukur kepada Allah SWT
Masyarakat menyadari bahwa hasil panen dan keselamatan hidup adalah karunia Tuhan.
2. Doa Tolak Bala
Babaritan menjadi sarana memohon perlindungan dari bencana, penyakit, dan kesulitan hidup.
3. Mempererat Silaturahmi
Tradisi ini memperkuat hubungan sosial antarwarga.
4. Pelestarian Budaya Islam Nusantara
Babaritan menunjukkan bahwa Islam di Indonesia berkembang secara damai dan akomodatif terhadap budaya lokal.
Tradisi di Era Modern babaritan
Seiring perkembangan zaman, Tradisi Babaritan mengalami beberapa penyesuaian. Unsur-unsur yang tidak sesuai dengan ajaran Islam mulai ditinggalkan, sementara nilai doa dan kebersamaan tetap dipertahankan.
Pemerintah daerah dan komunitas budaya di Bekasi juga turut mendukung pelestarian tradisi ini sebagai bagian dari identitas budaya lokal.
Peran Generasi Muda dalam Melestarikan tradisi
Agar tidak punah, generasi muda memiliki peran penting dalam:
- Mendokumentasikan tradisi
- Mengikuti kegiatan Babaritan
- Mempromosikan melalui media sosial
- Mengedukasi tentang makna sebenarnya
Dengan pendekatan yang tepat, Tradisi Babaritan bisa tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan digital.
Kesimpulan
Tradisi Babaritan adalah cerminan kebudayaan Islam di Bekasi yang mengedepankan rasa syukur, doa, dan kebersamaan. Tradisi ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai Islam dapat berjalan harmonis dengan budaya lokal tanpa kehilangan esensi ajarannya.
Melestarikan Babaritan bukan hanya menjaga tradisi, tetapi juga menjaga identitas dan warisan budaya yang sarat makna spiritual serta sosial.






