Ngaben adalah upacara pembakaran jenazah umat HIndu di Bali.Upacara ngaben merupakan suatu ritual yang dilaksanakan untuk mengembalikan roh leluhur ke tempat asalnya.Ngaben dalam bahasaBali berkonotasi halus yang sering disebut palebon.Palebon berasal dari kata lebu yang artinya prathiwi atau tanah.Palebon artinya menjadikan prathiwi (abu).Untuk menjadikan tanah itu ada dua cara yaitu dengan cara membakar (ngaben) dan menanam ke dalam tanah (metanem).
Apa Itu Tradisi Ngaben?
Ngaben adalah upacara pembakaran jenazah dalam ajaran Hindu sebagai bentuk pelepasan roh (atma) dari ikatan duniawi. Dalam bahasa Bali, Ngaben sering disebut juga sebagai “Pitra Yadnya”, yaitu persembahan suci kepada leluhur.
Upacara ini merupakan bagian dari ritual keagamaan umat Parisada Hindu Dharma Indonesia sebagai lembaga yang menaungi umat Hindu di Indonesia.
Sejarah Tradisi Ngaben di Indonesia
1. Pengaruh Hindu dari India
Sejarah Ngaben tidak dapat dilepaskan dari masuknya agama Hindu ke Nusantara sekitar abad ke-4 Masehi. Pengaruh ini terlihat kuat pada masa kerajaan Hindu-Buddha seperti:
- Kerajaan Majapahit
- Kerajaan Kediri
Tradisi kremasi dalam ajaran Hindu berasal dari kepercayaan bahwa api adalah simbol penyucian dan pelepasan unsur jasmani menuju alam spiritual.
2. Perkembangan di Bali
Setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit, banyak bangsawan dan tokoh agama Hindu bermigrasi ke Bali. Sejak saat itu, Bali menjadi pusat pelestarian ajaran dan tradisi Hindu, termasuk Ngaben.
Di Bali, Ngaben berkembang menjadi upacara adat yang megah dengan berbagai simbol budaya seperti:
- Bade (menara jenazah)
- Lembu atau wadah berbentuk hewan suci
- Prosesi arak-arakan yang meriah
Makna Filosofis Tradisi Ngaben
Ngaben bukan sekadar pembakaran jasad, tetapi memiliki makna spiritual mendalam:
1. Pelepasan Roh (Atma)
Upacara ini bertujuan membantu roh menuju alam selanjutnya dan terbebas dari ikatan dunia.
2. Penyucian Unsur Panca Maha Bhuta
Tubuh manusia diyakini terdiri dari lima unsur alam (tanah, air, api, udara, dan ether). Melalui api, unsur tersebut dikembalikan ke alam semesta.
3. Siklus Reinkarnasi
Dalam ajaran Hindu, kematian bukan akhir, melainkan awal kelahiran kembali.
Tahapan Prosesi Ngaben
Secara umum, tahapan Ngaben meliputi:
- Ngeringkes – Membungkus jenazah
- Pembuatan Bade & Lembu – Sarana simbolis kremasi
- Prosesi Arak-Arakan – Mengantar jenazah ke tempat pembakaran
- Pembakaran Jenazah
- Nganyut – Menghanyutkan abu ke laut atau sungai
Laut sering menjadi lokasi akhir prosesi, karena dianggap sebagai simbol penyucian dan pelepasan energi kembali ke alam.

Jenis-Jenis Ngaben
Di Bali, terdapat beberapa jenis Ngaben:
- Ngaben Sawa Wedana – Dilakukan segera setelah meninggal
- Ngaben Asti Wedana – Dilakukan setelah jenazah dikubur sementara
- Ngaben Massal – Dilaksanakan bersama untuk efisiensi biaya
Ngaben massal kini semakin populer karena biaya upacara individu cukup besar.
Perubahan Tradisi Ngaben di Era Modern
Di era modern, pelaksanaan Ngaben mengalami beberapa penyesuaian:
- Waktu pelaksanaan menyesuaikan kondisi keluarga
- Biaya lebih efisien melalui sistem kolektif
- Regulasi lingkungan terkait pembakaran
- Pendekatan lebih sederhana tanpa menghilangkan makna spiritual
Meskipun demikian, nilai filosofisnya tetap terjaga.
Nilai Sosial dan Budaya Tradisi Ngaben
Selain makna religius, Ngaben juga memiliki nilai sosial:
- Mempererat solidaritas masyarakat adat
- Menguatkan sistem banjar (komunitas lokal)
- Melestarikan seni dan budaya Bali
- Menjadi daya tarik wisata budaya
Namun, penting untuk menghormati Ngaben sebagai ritual sakral, bukan sekadar tontonan wisata.
Apakah Ngaben Hanya Ada di Bali?
Walaupun identik dengan Bali, tradisi kremasi juga dilakukan oleh umat Hindu di daerah lain seperti:
- Lombok
- Jawa Timur
Namun, bentuk dan kemeriahannya tidak sebesar di Bali.
Tujuan upacara ngaben
Tujuan dari upacara ngaben adalah mempercepat ragha sarira agar dapat kembali ke asalnya,yaitu panca maha buthadi alam ini dan bagi atma dapat cepat menuju alam pitra.landasan filosofis ngaben secara umum adalah panca sradha yaitu lima kerangka dasar Agama Hindu yaitu Brahman, Atman, Karmaphala, Samsara dan Moksa. Sedangkan secara khusus ngaben dilaksanakan karena wujud cinta kepada para leluhur dan bhakti anak kepada orang tuanya.Upacara ngaben merupakan proses pengembalian unsur panca maha butha kepada Sang pencipta. Ngaben juga disebut sebagai pitra yadnya ( lontar yama purwana tattwa).Pitra yang artinya leluhur atau orang yang mati sedangkan yadnya adalah persembahan suci yang tulus ikhlas.
Pelaksanaan ritual upacara ngaben / Pitra Yadnya
UPACARA ATIWA-TIWA
Asal kata Atiwa-tiwa: Ati = berkeinginan, Awa = terang atau bening atau bersih. Artinya: Keinginan melaksanakan pebersihan dan penyucian jenasah dan kekuatan Panca Maha buthanya. Atiwa-tiwa juga disebut upacara melelet atau upacara pengeringkesan. Merupakan upacara pebersihan dan penyucian secara permulaan thd jenasah dari kekuatan Panca Maha Butha. Dikenal dg Puja Pitara utk meningkatkan kesucian Petra menjadi Pitara.
Ngeringkes atau Ngelelet pengertiannya adalah pengembalian atau penyucian asal mula dari manusa yaitu berupa huruf2 suci sehingga harus dikembalikan lagi. Manusia lahir diberi kekuatan oleh Sang Hyang Widhi berupa Ongkara Mula, didalam jasad bermanifestasi menjadi Sastra Mudra, Sastra Wrestra (Nuriastra) dan Sastra Swalalita. Ketiga kekuatan sastra ini memberi makna Utpti, Stiti, Pralina (lahir, hidup, mati). Ketiga sastra ini kemudian bermanifestasi lagi memberi jiwa kepada setiap sel tubuh.
Kesimpulan
Sejarah tradisi Ngaben menunjukkan bahwa upacara ini bukan hanya ritual pembakaran jenazah, tetapi simbol pelepasan, penyucian, dan perjalanan spiritual dalam ajaran Hindu.
Berakar dari pengaruh Hindu India, berkembang pada masa Kerajaan Majapahit, dan dilestarikan dengan kuat di Bali, Ngaben menjadi warisan budaya sekaligus identitas spiritual umat Hindu di Indonesia.
Di tengah modernisasi, tradisi ini tetap bertahan karena mengandung nilai filosofis, sosial, dan religius yang mendalam.






