Di tepi perairan Kampung Laut, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi, hidup suku Duano, sebuah komunitas yang erat kaitannya dengan laut. Dikenal sebagai “Orang Laut,” mereka mendiami pesisir timur Jambi dan menggantungkan hidup pada sumber daya perairan. Di antara berbagai tradisi yang mereka lestarikan, Tradisi arakan pompong menjadi salah satu kegiatan budaya yang paling menarik dan sekaligus simbol identitas suku ini.
Prosesi Tradisi Arakan Pompong
Pelaksanaan tradisi ini biasanya berlangsung meriah dan penuh makna.
Arakan pompong merupakan bagian dari Festival Bedak Sejuk Duano yang diselenggarakan pada bulan Juli. Tradisi ini melibatkan seluruh masyarakat suku Duano, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, dan menjadi pengingat akan perjalanan leluhur mereka, yang dahulu menempuh rute dari pesisir Riau menuju Tanjung Jabung Timur menggunakan pompong (perahu) sebagai alat transportasi utama.

Suku Duano memiliki hubungan erat dengan pompong. Perahu kecil ini lebih dari sekadar alat transportasi. Melalui tradisi arakan pompong, masyarakat suku Duano bisa mengenang kembali cerita asal-usul mereka dan peran laut sebagai sumber kehidupan,”
Arakan perahu yang meriah ini dilaksanakan di pesisir timur Jambi, tepatnya di perairan dekat pemukiman suku Duano di Kampung Laut, Lorong Trio Perkasa, Kelurahan Tanjung Solok, Kecamatan Kuala Jambi, Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
Untuk mencapai Kampung Laut, dibutuhkan waktu sekitar dua jam perjalanan dari Kota Jambi. Baik melalui jalur darat maupun sungai, perjalanan ini akan membawa pengunjung untuk merasakan langsung keunikan dan dinamika kehidupan masyarakat suku Duano.
Kampung Laut bukanlah pemukiman tepi laut dengan pantai berpasir. Sebaliknya, perkampungan suku Duano terdiri dari rumah-rumah panggung yang berjejer rapi, dengan anak tangga yang langsung menyentuh permukaan air laut yang berubah-ubah warnanya, dari kecokelatan hingga kehitaman. Pompong dan sampan-sampan terikat di tiang-tiang penopang dari kayu nibung, sementara aroma khas laut yang amis tercium saat angin laut berhembus.
Makna Tradisi Arakan
Suku Duano dikenal sebagai masyarakat pesisir yang sangat bergantung pada laut. Dalam kehidupan mereka, laut bukan hanya sumber mata pencaharian, tetapi juga bagian dari identitas budaya. Bagi masyarakat suku Duano, pompong lebih dari sekadar alat transportasi. Perahu kayu bermesin ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan mereka, terutama sebagai nelayan yang menggantungkan penghidupannya pada laut.
Saat melaut, para nelayan sering menghabiskan waktu berhari-hari di atas perahu kayu bermesin ini, menjadikannya bagian tak terpisahkan dari aktivitas mereka.
Pompong menjadi alat transportasi utama bagi suku Duano untuk melaut dan mencari nafkah. Dengan pompong, mereka mencari berbagai jenis hasil laut seperti ikan, udang, dan kerang. Salah satu komoditas yang paling diburu adalah udang kletek, meski populasinya semakin langka.






