Beranda / Budaya Dan Tradisi / Uniknya Tradisi Tabuik di Pariaman Dalam Peringatan Hari Asyura

Uniknya Tradisi Tabuik di Pariaman Dalam Peringatan Hari Asyura

Tabuik
Home » Budaya Dan Tradisi » Uniknya Tradisi Tabuik di Pariaman Dalam Peringatan Hari Asyura

Tabuik menjadi salah satu tradisi dari Kota Pariaman, Sumatera Barat. Tradisi ini diselenggarakan untuk memperingati kematian Husein bin Ali, yakni cucu Nabi Muhammad SAW. Dilaksanakan mulai dari tanggal 1 Muharram sampai 10 Muharram puncaknya, ada tujuh rangkaian ritual yang dilakukan.

Ritual tersebut dimulai dari mengambil tanah, menebang batang pisang, mataam, mengarak jari-jari, mengarak sorban, tabui naik pangkek, hoyak tabuik, dan membuang tabuik ke laut. Setiap tahunnya, tradisi ini disaksikan oleh puluhan ribu pengunjung dari berbagai penjuru Sumatera Barat. Titik yang biasanya digunakan untuk penyelenggaraan Tradisi Tabuik sendiri ada di Pantai Gandoriah.

Apa Itu Tradisi Tabuik?

Secara harfiah, “Tabuik” berasal dari kata bahasa Arab Tabut yang berarti peti kayu. Dalam sejarah Islam, ini merujuk pada peti yang dibawa oleh burung Buraq untuk membawa jenazah Imam Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW, setelah peristiwa di Padang Karbala.

Masyarakat Pariaman mengadaptasi kisah ini menjadi sebuah upacara kolosal. Mereka membangun dua struktur menara megah setinggi 12 hingga 15 meter yang disebut Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang. Menara ini dihiasi dengan sayap, kepala manusia berserban (simbol Buraq), dan ekor burung yang indah.

Rangkaian Ritual yang Penuh Makna

Keunikan Tabuik terletak pada prosesinya yang panjang dan penuh simbolisme. Ritual ini tidak terjadi dalam satu hari, melainkan serangkaian prosesi yang dimulai sejak tanggal 1 Muharram.

1. Maambiak Tanah (Mengambil Tanah)

Ritual pembuka yang dilakukan pada 1 Muharram. Tanah diambil dari sungai yang suci sebagai simbol asal muasal penciptaan manusia dan kesucian jiwa.

2. Manabang Batang Pisang (Menebang Batang Pisang)

Dilakukan pada tanggal 5 Muharram. Menebang batang pisang dengan sekali tebas menggunakan pedang tajam menyimbolkan keteguhan hati dan keberanian Imam Husain dalam menghadapi ketidakadilan.

3. Maatam dan Maarak Jari-Jari

Ritual ini sangat emosional. Maatam adalah simbol kesedihan, sementara Maarak Jari-Jari menggambarkan pencarian potongan tubuh para syuhada yang gugur di medan perang.

4. Maarak Saroban (Mengarak Sorban)

Sorban adalah simbol kepemimpinan dan harga diri. Prosesi ini bertujuan untuk menginformasikan kepada masyarakat bahwa perjuangan membela kebenaran harus terus dijaga.

Tabuik

Puncak Acara: Hoyak Tabuik dan Melarung ke Laut

Puncak dari segalanya terjadi pada tanggal 10 Muharram, yang dikenal dengan Hari Hoyak Tabuik. Dua menara Tabuik (Pasa dan Subarang) diarak oleh ratusan pemuda menuju pantai.

Suasana menjadi sangat magis saat kedua Tabuik ini digoyang-goyangkan (dihoyak) diiringi musik tambua yang menggelegar. Masyarakat percaya bahwa semakin hebat guncangan Tabuik, semakin besar semangat yang berkobar.

Saat matahari mulai terbenam, kedua Tabuik dilarung ke tengah laut lepas. Prosesi melarung ini memiliki makna mendalam: membuang segala kesedihan, perselisihan, dan keburukan di tahun yang lalu, serta mengembalikan semuanya kepada Sang Pencipta.

Mengapa Tabuik Begitu Unik di Mata Wisatawan?

Budaya Tabuik di Pariaman unik karena merupakan hasil akulturasi yang sempurna. Meski akarnya berasal dari pengaruh budaya Syiah yang dibawa oleh tentara Sipahi dari India ke Bengkulu lalu ke Pariaman, kini Tabuik telah menjadi identitas budaya masyarakat Pariaman yang mayoritas Sunni.

Tabuik bukan lagi milik satu golongan, melainkan pesta rakyat (Pesta Budaya Tabuik) yang menyatukan masyarakat lintas agama dan suku. Dari sisi estetika, pengerjaan tangan pada menara Tabuik sangat detail, menggunakan kain beludru, kertas warna-warni, dan hiasan bunga yang menjadikannya objek fotografi yang luar biasa.

Tips Menikmati Festival Tabuik di Pariaman

Jika Anda berencana mengunjungi Pariaman saat Hari Asyura, pastikan Anda datang lebih pagi untuk mendapatkan posisi terbaik di pinggir pantai. Jangan lupa membawa pelindung kepala dan air minum karena cuaca di pesisir biasanya cukup terik. Yang paling penting, abadikan momen saat Tabuik dilarung, karena itulah saat di mana emosi dan estetika menyatu dalam satu bingkai.

Kesimpulan

Tradisi Tabuik di Pariaman adalah bukti nyata kekayaan budaya Indonesia yang mampu menjaga sejarah melalui seni. Ia mengajarkan kita tentang keberanian, pengorbanan, dan pentingnya membuang energi negatif untuk memulai lembaran baru yang lebih suci.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *